Selasa, 16 Oktober 2012

Bahan Diskusi


Bahan diskusi pengelolaan media budidaya (PMB) Download : http://adf.ly/De3QL

Bandeng (PEMBENIHAN DAN PEMBESARAN) Download : http://adf.ly/De3wO

Media Budidaya (PMB) Download : http://adf.ly/De579

PERHITUNGAN BEP (RUMPUT LAUT) Download : http://adf.ly/De60c

Contoh TA TUGAS AKHIR PEMANENAN BENIH ABALONE (Halliotis squamata) YANG MENEMPEL DI SUBSTRAT Download : http://adf.ly/De7Jj

Update Referensi


PROSEDUR UJI LIPID PADA IKAN TULUS DARI TAMBAK DI DESA PEMARON (BIOKIMIA) Download : http://adf.ly/DaooD

New Frish Jhon Dedek, Ecy, Adi (TEKNIK PENANGGULANGAN PENYAKIT IKAN) Download : http://adf.ly/DapBn

Laporan Praktikum Bedah Ikan (PENYAKIT & PARASIT IKAN) Download : http://adf.ly/DapKO

Sabtu, 13 Oktober 2012

PENYELAMATAN TERUMBU KARANG PANTAI LOVINA MELALUI TEKNIK TRANSPLANTASI PROPAGASI SEBAGAI UPAYA MENGATASI KERUSAKAN EKOSISTEM LAUT.


PENYELAMATAN TERUMBU KARANG PANTAI LOVINA MELALUI  TEKNIK TRANSPLANTASI PROPAGASI  SEBAGAI UPAYA MENGATASI KERUSAKAN EKOSISTEM LAUT.

I Wayan Sri Adi Wiryana
Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja

RINGKASAN
Pulau Bali memiliki garis pantai sepanjang 585 km dengan luas wilayah laut lebih kurang 9.500 km2. Total panjang garis pantai di Provinsi Bali termasuk pulau-pulau kecil, baik pantai berpasir putih maupun berpasir hitam (Pemda Propinsi Bali, 1998).  Bersadarkan kondisi pasir, tanaman, dan keterjalannya, pantai di sepanjang Pulau Bali diketegorikan atas: pantai berpasir abu-abu sepanjang 331,96 km (72,2%), pantai berpasir putih sepanjang 36,55 km (8,5%), pantai berhutan bakau sepanjang 27,95 km (6,5%) dan pantai bertebing terjal sepanjang 23,65 km (5,5%) (Suharnoto. dkk, 2000).  Pantai ini menampilkan beragam habitat alami yang berbeda seperti pantai berpasir, terumbu karang, hutan bakau, dan padang lamun (Pemda Propinsi Bali, 1998).  Sebaran terumbu karang di Bali melingkupi daerah pantai sepanjang 331,5 km dengan luas 7.592 ha. Sebaran ini meliputi Kabupaten Buleleng, Karangasem, Klungkung, Badung, Jembrana, dan Kota Denpasar  (Sunarta. dkk, 2003).             
Kawasan Lovina merupakan salah satu tujuan pariwisata bahari yang sangat terkenal di Bali. Keberadaan aktivitas pariwisata ini memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di Kawasan Lovina. Sebagai salah satu daerah pariwisata di bali tingginya tekanan terhadap ekosistem terumbu karang di Kawasan Lovina mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan individu karang di kawasan ini.  Tekanan ini berasal dari aktivitas manusia sebagai pemanfaat pesisir dan alam itu sendiri.  Aktivitas manusia terdiri dari pembangunan yang tidak berwawasan kelestarian lingkungan, kegiatan perikanan yang merusak, aktivitas pariwisata yang tidak ramah lingkungan, dan masuknya bahan pencemar ke badan perairan, salah satu dampak nyatanya dari tekanan ini adalah kerusakan karang yang terjadi di sekitar kawasan Lovina.  
Di tengah permasalahan kerusakan terumbu karang di kawasan Lovina,             diperlukan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan tulisan ini, diharapkan dapat memberikan gagasan kepada masyrakat untuk , yaitu melalui metode transplantasi propagasi seperti berikut: 1. Pengambilan bibit koloni karang.. 2. Pengikatan bibit koloni karang ke substrat. Substrat pengikatan karang dapat berupa gerabah atau semen. 3. Penenggelaman transplantasi propagasi dan rangka (bila ada). 4. Perawatan. Usaha pengembangan budidaya terumbu karang melalui teknik propagasi (yaitu teknik perbanyakan terumbu karang dengan stek) merupakan prospek yang sangat menarik karena kesederhanaanya serta laju pertumbuhan terumbu karang berlangsung relatif cepat. Sehingga dapat menjadi solusi tepat mengatasi kerusakan terumbu karang di kawasan Lovina.





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perairan Indonesia yang luasnya 5,1 juta km2, termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,7 juta km2 memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Salah satu keanekaragaman hayati yang hidup di laut adalah terumbu karang. Jumlah jenis karang batu (hard coral) di Indonesia tercatat sebanyak 590 jenis, yang didominasi oleh karang dari genus Acropora (91 jenis), Montipora (29 jenis) dan Porites (14 jenis) (Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan konservasi alam, 2010).
Pulau Bali memiliki garis pantai sepanjang 585 km dengan luas wilayah laut lebih kurang 9.500 km2. Total panjang garis pantai di Provinsi Bali termasuk pulau-pulau kecil, baik pantai berpasir putih maupun berpasir hitam (Pemda Propinsi Bali, 1998).  Bersadarkan kondisi pasir, tanaman, dan keterjalannya, pantai di sepanjang Pulau Bali diketegorikan atas: pantai berpasir abu-abu sepanjang 331,96 km (72,2%), pantai berpasir putih sepanjang 36,55 km (8,5%), pantai berhutan bakau sepanjang 27,95 km (6,5%) dan pantai bertebing terjal sepanjang 23,65 km (5,5%) (Suharnoto. dkk, 2000).  Pantai ini menampilkan beragam habitat alami yang berbeda seperti pantai berpasir, terumbu karang, hutan bakau, dan padang lamun (Pemda Propinsi Bali, 1998).  Sebaran terumbu karang di Bali melingkupi daerah pantai sepanjang 331,5 km dengan luas 7.592 ha. Sebaran ini meliputi Kabupaten Buleleng, Karangasem, Klungkung, Badung, Jembrana, dan Kota Denpasar  (Sunarta. dkk, 2003).             
Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang amat penting bagi keberlanjutan sumberdaya yang ada dikawasan pesisir dan lautan. Ekosistem ini umumnya tumbuh di daerah tropis dan mempunyai produktivitas primer yang tinggi, yaitu bisa mencapai lebih dari 10 kg C/m2 /tahun, dibandingkan dengan produktivitas perairan laut lepas pantai, yang hanya berkisar antara 50 –100 mg C/m2/tahun. Tingginya produktivitas primer di daerah terumbu karang ini menyebabkan terjadinya pengumpulan hewan-hewan yang beraneka ragam, seperti ikan, udang, mollusca (kerang-kerangan), dan lainnya (Sugandhy, 2000  dalam Supriharyono, 2000).
Kawasan Lovina merupakan salah satu tujuan pariwisata bahari yang sangat terkenal di Bali.  Daya tarik utama Kawasan Lovina adalah keindahan pesisir dan laut serta ditunjang oleh keberadaan organisme-organisme laut yang eksotik. Keberadaan aktivitas pariwisata ini memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di Kawasan Lovina. Sebagai salah satu daerah pariwisata di bali tingginya tekanan terhadap ekosistem terumbu karang di Kawasan Lovina mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan individu karang di kawasan ini.  Tekanan ini berasal dari aktivitas manusia sebagai pemanfaat pesisir dan alam itu sendiri.  Aktivitas manusia terdiri dari pembangunan yang tidak berwawasan kelestarian lingkungan, kegiatan perikanan yang merusak, aktivitas pariwisata yang tidak ramah lingkungan, dan masuknya bahan pencemar ke badan perairan, salah satu dampak nyatanya dari tekanan ini adalah kerusakan karang yang terjadi di sekitar kawasan Lovina.  
Berdasarkan fenomena di atas maka penulis menyusun gagasan tertulis mengenai berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kerusakan terumbu karang di wilayah lovina, untuk itu penulis mengangkat judul “Upaya Penanggulangan Kerusakan Terumbu Karang Di daerah Lovina Melalui Propagasi Terumbu Karang”. Sebenarnya rangkaian upaya penanggulangan tersebut sudah dicanangkan sejak lama. Namun, permasalahan yang muncul akibat pemanasan global tersebut hingga saat ini belum dapat teratasi secara maksimal.


Tujuan
Karya tulis ini bertujuan Untuk mengetahui dampak dari kerusakan terumbu karang dan cara yang paling efektif dalam menanggulangi kerusakan terumbu karang yang terjadi di kawasan Lovina.

Manfaat
Bagi masyarakat umum, diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa pemanasan kerusakan terumbu karang memiliki dampak yang cukup serius dan tidak dapat diabaikan begitu saja, baik dalam kurun waktu yang lama maupun singkat. Sedangkan bagi dunia keilmuan, penulisan karya ilmiah ini diharapkan mampu mendorong perkembangan ilmu-ilmu sains, serta memberikan informasi ilmiah mengenai berbagai dampak sekaligus penanggulangan terhadap kerusakan terumbu karang.

GAGASAN
Tinjauan Umum mengenai Terumbu Karang
Terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat koloni karang laut yang bernama polip yang bersimbiosis dengan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Biasanya tumbuh di dekat pantai di daerah tropis dengan temperatur sekitar 21-30ÂșC. Terumbu karang mempunyai fungsi dan manfaat serta arti yang amat penting bagi kehidupan masyarakat Nusa Penida baik segi ekonomi maupun sebagai penunjang kegiatan pariwisata. Adapun fungsi dan manfaat terumbu karang adalah (1)Terumbu karang memberikan perlindungan, tempat berkembang biak dan mencari makan bagi hewan-hewan dalam habitatnya termasuk sponge, ikan (kerapu, hiu karang, clown fish, belut laut, dll), ubur-ubur, bintang laut, udang-udangan, kura-kura, ular laut, siput laut, cumi-cumi atau gurita, termasuk juga burung-burung laut yang sumber makanannya berada di sekitar ekosistem terumbu karang. (2)Sumberdaya laut yang mempunyai nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi. (3)Sebagai laboratorium alam untuk penunjang pendidikan dan penelitian yang berkaitan dengan kelautan. (4)Terumbu karang merupakan habitat bagi sejumlah spesies yang terancam punah seperti kima raksasa dan penyu laut. (5)Dari segi fisik terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan mangrove. (6)Terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi. Dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis diantaranya hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat menghasilkan 3 - 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun. (7)Keindahan terumbu karang sangat potensial untk wisata bahari. Masyarakat disekitar terumbu karang dapat memanfaatkan hal ini dengan mendirikan pusat-pusat penyelaman, restoran, penginapan sehingga pendapatn mereka bertambah
Namun, terumbu karang merupakan ekosistem yang amat peka dan sensitif. Jangankan dirusak, diambil sebuah saja, maka rusaklah keutuhannya. Ini dikarenakan kehidupan di terumbu karang di dasari oleh hubungan saling tergantung antara ribuan makhluk. Rantai makanan adalah salah satu dari bentuk hubungan tersebut. Tidak cuma itu proses terciptanya pun tidak mudah. Terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun hingga dapat tercipta secara utuh dan indah. Sebagai ekosistem terumbu karang sangat kompleks dan produkstif dan keanekaraman jenis biota yang amat tinggi. Variasi bentuk pertumbuhannya di Indonesia sangat kompleks dan luas sehingga bisa ditumbuhi oleh jenis biota lain.
       Kondisi perairan sangat menunjang kehidupan karang di perairan mulai dari tingkat larva sampai dewasa menurut English, dkk (1994), keberadaan suatu spesies karang pada suatu wilayah tertentu dipengaruhi oleh jenis dan kelimpahan larva karang.  Di samping itu pertumbuhan terumbu karang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pembatas seperti (1)Cahaya, Menurut Nybakken (1992), terumbu karang mempunyai titik kompensasi berkurangnya intensitas  cahaya  sampai  15-20% dari  permukaan  pada   kedalaman 25 m atau kurang, agar perkembangannya optimal di perairan. Sedangkan menurut Supriharyono (2000), cahaya bersama-sama dengan zooxanthellae merupakan faktor lingkungan yang mengontrol distribusi vertikal karang dan laju pembentukan (kalsifikasi) terumbu karang oleh individu dari setiap koloni. Cahaya diperlukan untuk fotosintesis alga simbiosis yaitu zooxanthellae yang produksinya kemudian disumbangkan kepada hewan karang yang menjadi inangnya. Tanpa cahaya yang cukup, laju fotosintesis zooxanthellae berkurang dan bersamaan dengan itu kamampuan karang untuk mendepositkan kalsium karbonat dan membentuk terumbu akan berkurang pula (Nybakken, 1992 ; Notji, 1987). (2)Suhu, Perkembangan terumbu karang yang paling optimal jika rata-rata suhu tahunannya 23-250C dan mendekati kondisi tropis (Nybakken, 1992; Lalli dan Parsons, 1993).  Tetapi pada kirasan suhu 25-30 oC pertumbuhan karang masih dapat hidup secara optimal (Nontji, 1987).  Suhu mempunyai peranan penting dalam membatasi sebaran terumbu karang, karena karang hermatypik sebagai komponen utama penyusunnya memiliki pertumbuhan optimal pada suhu rata-rata di atas 200C sepanjang tahunnya (Barner dan Hughes, 1990).  Oleh karena itu, terumbu karang tidak ditemukan di daerah beriklim sedang apalagi di daerah dingin. (3)Kedalaman, Menurut Supriharyono (2000), secara umum kedalaman yang masih layak untuk pertumbuhan karang adalah berkisar antara 10-15m. Tetapi Nybakken (1992); Lalli dan Parsons (1993), menyatakan pada kedalaman kurang dari 25 m karang memiliki kemampuan optimal untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. (4)Ditlev (1980), menyatakan bahwa karang menurun pertumbuhannya dengan bertambahnya kedalaman perairan.  Jika air keruh, karang hanya dapat tumbuh pada kedalaman 2 meter.  Sedangkan pada air yang jernih biru di sekitar pulau–pulau samudera, karang dapat tumbuh sampai pada kedalaman lebih dari 80 meter.  Secara umum terumbu karang tidak dapat berkembang dengan baik pada perairan yang lebih dalam dari 50-70 meter.  Menurut Nybakken (1992), semakin berkurangnya cahaya berdampak pada menurunkan kemampuan laju fotosintesis zooxanthellae, sehingga kemampuan mendepositkan kalsium karbonat dan membentuk terumbupun akan berkurang.  Hal ini ditunjukkan dengan terbatasnya struktur terumbu di pinggiran benua-benua atau pulau-pulau. (4) Salinitas, Salinitas tinggi jarang menjadi faktor yang mempergaruhi penyebaran komunitas karang.  Sebaliknya salinitas rendah pada umumnya sangat mempengaruhi distribusi maupun zonasi terumbu karang.  Terumbu karang dapat berkembang optimal pada kawasan dengan salinitas yang normal bagi kondisi perairan laut (Nybakken, 1992).  Terumbu karang tidak dapat berkembang pada kawasan pantai yang secara periodik mendapat masukan air sungai, dan ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi distribusi karang sepanjang garis pantai.   Curah hujan menjadi faktor yang mempengaruhi distribusi karang, dimana akan mempengaruhi kadar salinitas suatu kawasan (Veron, 1996; Nontji, 1987) Hal ini disebabkan karang hermatipik adalah organisme laut sejati yang tidak akan dapat hidup jika kadar  salinitas menyimpang dari normal  32-35‰.  (Nybakken, 1992). (5)Kekeruhan dan Sedimentasi, Kekeruhan air dapat mengurangi intensitas cahaya masuk dan dapat menyebabkan terganggu sampai matinya terumbu karang (Dodge dkk., 1974 dalam Supriharyono 2000). Sedimentasi secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan karang karena banyaknya energi yang dikeluarkan untuk menghalau sedimen ini agar tidak ke permukaan polip (Pastorok dan Bilyard, 1985 dalam Supriharyono 2000). Meningkatnya sedimen akan mematikan karang dan tambahan unsur hara dapat menyebabkan karang ditumbuhi alga  yang menjadi pesaing karang dalam hidup (Anonim, 2001).  Hal ini disebabkan sedimen yang berlebihan dapat mematikan karang, karena oksigen terlarut dalam air tidak dapat berdifusi masuk ke dalam polip karang  (Dahuri, dkk. 1996) Subsrat yang keras dan bersih dari lumpur diperlukan untuk pelekatan larva planula karang yang akan membentuk koloni baru. Cangkang moluska, potongan–potongan kayu bahkan juga besi yang terbenam dapat menjadi subsrat penempelan larva planula (Nontji, 1987). (6)Bahan pencemar, Penelitian Rinkevich dan Loya pada tahun (1979) dalam Supriharyono (2000), melaporkan  bahwa tumpahan minyak sebagai bahan pencemar berpengaruh terhadap populasi Stylophora pistillata di Teluk Eilat,  Laut Merah. Tumpahan minyak menyebabkan berkurangnya koloni spesies karang, tingkat reproduksi, jumlah ovari per polip, jumlah planula yang dihasilkan per individu, dan menurunnya jumlah planula yang berhasil melekat pada substrat.  Hal ini disebabkan lapisan minyak dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang diperlukan karang dalam proses fotosintesisnya.     
Dampak Kerusakan Terumbu karang di kawasan Lovina
Kerusakan dari terumbu karang di kawasan lovina menimbulkan berbagai dampak antara lain hilangnya tempat perlindungan, tempat berkembang biak dan mencari makan bagi hewan-hewan dalam habitatnya termasuk sponge, ikan (kerapu, hiu karang, clown fish, belut laut, dll), ubur-ubur, bintang laut, udang-udangan, kura-kura, ular laut, siput laut, cumi-cumi atau gurita, termasuk juga burung-burung laut yang sumber makanannya berada di sekitar ekosistem terumbu karang sekitar perairan kawasan lovina. Dari segi fisik terumbu karang di kawasan Lovina berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan mangrove akibat kerusakan terumbu karang yang terjadi berakibat pada mulai terganggunya keseimbangan fisik ini di kawasan Lovina. Menurunya kegiatan perikanan di kawasan lovina di karenakan Terumbu karang merupakan sumber perikanan yang tinggi di kawasan Lovina, 32 jenis ikan  hidup di terumbu karang, berbagai jenis ikan karang menjadi komoditi ekspor. Terumbu karang yang sehat di kawasan Lovina menghasilkan 3 - 10 ton ikan per kilometer persegi pertahun.
Kondisi Terumbu Karang Kawasan Lovina
       Terumbu karang Lovina secara umum dikategorikan sebagai terumbu karang tepi (fringing reefs) yang merupakan terumbu karang yang hidup disepanjang pantai, meskipun di beberapa titik pengamatan ditemukan tipe terumbu penghalang (barrier reef) yang berupa atol. Formasi terumbu karang tepi memiliki keuntungan dalam proteksi daratan dari ancaman abrasi dari energi gelombang dan potensi biota yang berasosiasi di dalamnya.  Keuntungan ini juga memberikan dampak negatif terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang karena mudah terdegradasi oleh aktivitas manusia di daratan. Keberadaan terumbu karang kurang lebih 50 meter dari garis pantai, sepanjang pantai Desa Kalibubuk, Anturan, Tukad Mungga, Pemaron, Baktiseraga, dan Banyuasri.  Kategori penutupan karang hidup di Kawasan Lovina menggunakan manta tow survey menunjukkan kategori antara buruk sampai baik (Prasetia, 2010).
      Kondisi penutupan karang hidup dengan kategori 1 sampai 3 terpantau di kawasan pantai desa Tukad Mungga, Anturan, Baktiseraga, dan Banyuasri, sedangkan kategori 2 sampai 3 secara umum dapat dijumpai di Desa Anturan dan Kalibukbuk. Parameter karang keras di Lovina menunjukkan adanya nilai Indeks Mortalitas  atau kematian karang yang cukup tinggi (Prasetia, 2010). Nilai mortalitas yang tinggi, menurut Gomez et al. (1994), menunjukkan kondisi karang batu sudah mendapat tekanan yang cukup besar. Hal ini terlihat dari banyaknya rubble atau karang yang berupa serpihan-serpihan kecil di lokasi penelitian, dan selain itu terlihat adanya karang batu yang telah mati dan ditumbuhi alga.
        Tingginya tekanan terhadap ekosistem terumbu karang di Kawasan Lovina mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan individu karang di kawasan ini.  Tekanan ini berasal dari aktivitas manusia sebagai pemanfaat pesisir dan alam itu sendiri.  Aktivitas manusia terdiri dari pembangunan yang tidak berwawasan kelestarian lingkungan, kegiatan perikanan yang merusak, aktivitas pariwisata yang tidak ramah lingkungan, dan masuknya bahan pencemar ke badan perairan. 
       Menurut Burke, dkk. (2002),  ekosistem terumbu karang yang ada di wilayah Asia Tenggara merupakan yang paling terancam di dunia. Besarnya ketergantungan manusia terhadap sumberdaya laut di seluruh Asia Tenggara telah menyebabkan eksploitasi yang berlebih sehingga banyak terumbu karang yang terdegradasi, khususnya di dekat pusat kepadatan penduduk.  Sekitar 70% penduduk di kawasan ini hidup di sekitar 50 km pesisir. 
       Penyebab utama kerusakan terumbu karang adalah oleh aktivitas manusia (anthropogenic impact), misalnya melalui tangkap lebih (over-exploitation) terhadap hasil laut, penggunaan teknologi yang merusak, seperti potassium cyanide, bom ikan, muro ami dan lain-lain (Anonim, 2002). Ditinjau dari segi ekonomi dan sosial, pengerusakan karang ini akan menurunkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Karena dengan rusaknya ekosistem terumbu karang maka akan berdampak terhadap penurunan minat pengunjung ke daerah tersebut.
        Daerah aliran sungai di Kawasan Lovina yang pada waktu penghujan membawa sedimen ke perairan merupakan faktor alam yang turut mengendalikan pertumbuhan karang.  Sedimentasi secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan karang karena banyaknya energi yang dikeluarkan untuk menghalau sedimen ini agar tidak ke permukaan polip (Pastorok dan Bilyard, 1985 dalam Supriharyono 2000). Meningkatnya sedimen akan mematikan karang dan tambahan unsur hara dapat menyebabkan karang ditumbuhi alga  yang menjadi pesaing karang dalam hidup (Anonim, 2001).  Hal ini disebabkan sedimen yang berlebihan dapat mematikan karang, karena oksigen terlarut dalam air tidak dapat berdifusi masuk ke dalam polip karang  (Dahuri, dkk. 1996)
        Struktur komunitas terumbu karang di Kawasan Lovina memiliki formasi Acropora, Non Acropora, dan soft coral.  Kelompok Acropora umumnya berbentuk branching, tabulate dan submassive, kelompok Non Acropora dengan lifeform : branching, massive, encrusting, submassive, foliose dan mushroom
       Struktur komunitas terumbu karang di Desa Pemaron terdiri dari kelompok Acropora branching yaitu karang berbentuk bercabang seperti ranting pohon, seperti: Acropora palmata, A. Formosa. Kelompok Acrophora yang lain adalah Acrophora digitate yaitu karang berbentuk percabangan rapat dengan cabang seperti jari-jari tangan, seperti jenis: A. humilis, A. digitifera dan A. gemmifera, meskipun dengan jumlah yang relatif tidak banyak.  Desa Pemaron yang terletak di Desa Pemaron (masih dalam kawasan lovina)  menunjukkan penutupan karang hidup 21 % dengan karang mati 59% yang terdiri dati kelompok dead coral dan dead coral with algae (Prasetia, 2010).

Gambar 1. Kondisi Karang Desa Pemaron (Prasetia, 2010)     
       Keberadaan coral massive di stasiun ini sangat dominan dengan penutupan mencapai 14.46%, merupakan  karang berbentuk seperti batu besar yang padat. Keberadaan coral massive diasumsikan sebagai pola bertahan hidup karang untuk membentuk koloninya. Adaptasi bentuk seperti otak ini menguatkan posisi karang pada perairan yang jernih dan arus yang relatif keras.  Hal ini mengindikasikan kondisi perairan yang relatif tenang dengan tingkat visibilitas yang rendah dan subsrat cenderung bersedimen.
       Penutupan karang mati dan karang mati yang ditumbuhi alga sebanyak 59%, menunjukkan tingginya tingkat tekanan yang dihadapi ekosistem terumbu karang di Desa Pemaron. Tekanan lebih dominan dikarenakan adanya aliran sungai di kawasan, yang pada saat hujan membawa serta sedimen ke daerah terumbu karang.  Faktor kedua yang mempengaruhi adalah aktivitas manusia berupa penangkapan ikan yang merusak pada masa lalu yang mengakibatkan karang harus mengalami proses pemulihan.
       Keberadaan ikan karang yang ditemukan di Desa Pemaron berjumlah 100 individu yang terdiri dari 14 jenis ikan karang.  Ikan jenis Pseudanthias dispar, Pomacentrus coelestis, dan Chromis analis merupakan ikan yang paling banyak dijumpai, merupakan ikan-ikan indikator kurang baiknya ekosistem terumbu karang suatu perairan.
      Kawasan Pantai Tukad Munda menunjukkan nilai penutupan karang hidup 44%, dengan penutupan karang mati 53%, dengan kategori sedang.  Kelompok Acropora yang ditemukan dari kelompok branching dan submassive, Acropora Submassive adalah karang yang percabangannya beberntu gada atau lempeng dan kokoh, seperti Acropora palifera.
Gambar 2. Kondisi Karang di Pantai Tukad Munda (Prasetia, 2010)
       Kawasan Tukad Munda memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Desa Pemaron dengan aliran sungai aktif maupun tidak aktifnya memberikan kontribusi sedimentasi yang mengakibatkan kurang optimalnya pertumbuhan dan perkembangan karang utnuk membentuk terumbu. Hal ini mengakibatkan tingginya penutupan karang mati dan karang mati beralga sebesar 53% (Prasetia, 2010).
       Penutupan karang lunak yang ditemukan di kawasan ini mengindikasikan terus bertumbuh dan perkembangnya ekosistem terumbu karang.  Hal ini memberikan hararapan yang baik jika kondisi lingkungan tetap terjaga, maka karang akan terus mengalami recovery atau penutupan kembali karang hidup.  Karang lunak merupaka salah satu indikator terjadinya recovery suatu ekosistem terumbu karang.
       Jenis sponges yang ditemukan di kawasan ini adalah Theonella cylindrical, Xestospongia testudinaria, Haliclona sp, dan Desmapsamma sp.  Struktur tubuh sponges yang sederhana dan berongga-rongga berfungsi sebagai peryaring, sehingga di sekitarnya periran lebih jernih. Sponges di kawasan perairan berfungsi sebagai filter yang efektif dengan struktur yang sederhana (Allen and Roger, 1999).
       Ikan karang yang berasosiasi dengan terumbu karang ditemukan 29 jenis dengan 390 individu.  Jenis Chromis analis, Pseudhantias dispar, P. bicolor, P. Squamipinnis, dan Pomacentrus coelestis merupakan jenis yang paling sering dijumpai dalam pengamatan ini. Menurut Warner (1984), ikan-ikan dari family Pomacentridae merupakan ikan territori dan planktivora biasa membentuk territorial pada karang bercabang
       Kawasan Desa Kalibukbuk yang merupakan jantungnya Kawasan Lovina menunjukkan nilai penutupan karang mati 67% dengan penutupan karang hidup 18%, dikategorikan sebagai kriteria buruk. Tingkat kerusakan terumbu karang sangat berkaitan dengan penutupan karang mati dan pecahan / patahan karang (Prasetia, 2010).
Indikasi yang dipakai bahwa suatu kawasan mengalami kerusakan pada terumbu karangnya adalah : penutupan pecahan / patahan karang (rubble) dan keberadaan alga.  Rubble merupakan bentuk dari patahan-patahan karang yang tidak beraturan yang dapat diakibatkan oleh bencana alam, penggunaan bahan peledak untuk mencari ikan, penambangan karang untuk bahan bangunan, pembuangan jangkar, dan aktivitas manusia lainnya yang merusak. Alga merupakan salah satu kompetitor hidup bagi terumbu karang, alga akan sangat sulit untuk hidup dan tumbuh di atas terumbu karang yang baik.
       Kerusakan terumbu karang di Desa Kalibukbuk diindikasikan terjadi karena tingginya aktivitas pariwisata di kawasan ini.  Atraksi melihat lumba-lumba, snorkling, dan diving merupakan aktivitas yang bersentuhan langsung dengan ekosistem terumbu karang.  Hal ini mengakibatkan pertumbuhan dan perkembagan karang mengalami tekanan yang besar, sehingga diperlukan kebijakan untuk mengatasinya.

Gambar 3. Kondisi Karang Desa Kalibukbuk (Prasetia, 2010)
       Struktur komunitas karang di Desa Kalibukbuk meliputi kelompok Acropora Submassive, dan bukan kelompok acropora yang terdiri dari Coral Branching, Coral Encrusting, Coral Massive, Coral Submaasive, dan Coral Mushroom. Coral Mushroom ditemukan secara soliter berbentuk seperti jamur dan berasal dari jenis Fungia sp.Keberadaan karang lunak menjadi indikasi terjadinya recovery di ekosistem terumbu karang Stasiun 3, karang lunak merupakan kelompok karang pioneer yang akan tumbuh di daerah baru atau yang dulunya pernah terdapat terumbu.Aktivitas penangkapan ikan yang relatif tidak ada di kawasan ini mengakibatkan jumlah ikan ditemukan dalam kualitas maupun kuantitas yang lebih besar dari stasiun penelitian yang lainnya.  Jumlah ikan yang ditemukan sebanyak 755 individu, dari 31 jenis ikan karang yang berassosiasi dengan terumbu.Jenis Pseudanthias dispar, P. bicolor,dan Chromis analis merupakan jenis yang masih dominan di kawasan ini.  Keberadaan jenis Zanclus canescens atau moorish idol merupakan ikan indikator sehatnya suatu ekosistem terumbu karang. (Prasetia, 2010).

Propagasi Terumbu Karang
Transplantasi propagasi merupakan salah satu upaya rehabilitasi terumbu karang melalui pencangkokan atau pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan atau menciptakan habitat yang baru pada lahan yang kosong. Manfaat dari transplantasi propagasi itu sendiri bisa mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak, rehabilitasi lahan-lahan kosong atau yang rusak, menciptakan komunitas baru, konservasi plasma nutfah, pengembangan populasi karang (Prasetia, 2010).
Penerapan Metode Propagasi Terumbu Karang
Terkait dengan kerusakan karang yang terjadi di kawasan lovina tersebut, maka perlu dilakukan pembudidayaan terumbu karang untuk mengatasi kerusakan yang ditimbulkan mengingat terumbu karang memiliki beragam manfaat. Salah satu usaha pembudidayaan yang dapat dilakukan adalah teknik transplantasi propagasi. Gambaran langkah metode transplantasi propagasi seperti berikut Metode yang digunakan untuk menyebarkan karang hampir beragam seperti alat yang digunakan. Setiap jenis karang memiliki metode yang disukai untuk dibudidayakan, dari perlahan-lahan gambar dua bagian terpisah selama periode beberapa minggu, untuk menembakkan off bagian seolah-olah Anda sedang memotong wortel. Melampirkan karang ini baru disebarkan juga sama bervariasi dan menciptakan tantangan semua sendiri. Reproduksi Assisted a-seksual adalah metode membagi karang menjadi dua atau lebih bagian menggunakan metode yang berbeda. Setiap koloni baru yang berasal dari divisi tersebut dasarnya adalah tiruan identik dari koloni induk. (Prasetia, 2010). (1) Penyempitan lambat, Metode ini menggunakan string tipis atau bahan lain untuk perlahan-lahan memotong bagian karang, biasanya selama jangka berlangsung seminggu atau lebih. Ini adalah metode yang sangat aman yang digunakan kebanyakan pada karang lunak, meskipun metode kerja sangat intensif. (2)Cutting: Metode ini menggunakan gunting yang tajam, pisau cukur-pisau, atau alat tajam lainnya untuk memotong melalui jaringan karang. Ini adalah metode yang cepat untuk menyebarkan karang meskipun juga biasanya hanya digunakan untuk karang lunak. (3)Menggergaji: bercabang karang keras terlalu keras untuk memotong dengan genggam, pisau tipis, karena itu metode lain harus digunakan. Sebuah tangan-melihat atau melihat listrik kecil dapat digunakan untuk memisahkan koloni kecil dari orang tua mereka. (4)Breaking, Ada banyak metode melanggar karang bercabang keras, walaupun hanya satu yang saya pribadi merekomendasikan. Menggunakan kecil palu dan pahat kecil, orang bisa tap-off cabang kecil mengakibatkan kerusakan kurang dan istirahat bersih dibandingkan dengan metode lain untuk melanggar. (5)Potongan: potongan benar-benar istirahat / dipotong metode dilakukan dengan menggunakan gunting yang tajam tapi kuat atau snips timah. Cara terbaik adalah digunakan pada tipis-bercabang, karang keras dan gorgonia. Hal ini juga dapat digunakan ketika menyebarkan polip yang telah dikembangkan pada karang batu kecil poli. (6)Pengeboran / Etching: Metode ini sejauh ini merupakan metode yang paling maju yang dijelaskan di sini dan digunakan untuk berbagai karang batu keras. Pada dasarnya, bor yang digunakan untuk etch garis, tipis vertikal sekitar dasar kerangka karang (tidak ada bagian hidup dari karang dipotong). Kemudian lubang kecil adalah dibor melalui kerangka tengah sepanjang tanda etch. Pasak kecil kemudian dapat dipaksa perlahan-lahan menjadi keseluruhan ini sampai retak kerangka dasar. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak jaringan karang. Beberapa kerusakan kecil dapat mengakibatkan tetapi hal ini dapat dikendalikan dengan melakukan tindakan ini dengan seksama. karang tersebut kemudian dikembalikan ke sistem, tetapi salah satu dari potongan-potongan dasar perusahaan ditempatkan sedikit lebih rendah daripada yang lain, menciptakan ketegangan yang perlahan-lahan membentang jaringan antara dua basis. Selama dua minggu berikutnya atau lebih, potongan-potongan bergerak semakin jauh dari satu sama lain sebagai jaringan perlahan peregangan sehingga koneksi lebih tipis dan pemisahan akhirnya. Ini adalah metode yang hanya aman untuk memisahkan koloni tunggal polip kecil berbatu karang. (7)Memasang, Setelah karang terfragmentasi kami telah dipisahkan dari koloni ibunya, mereka harus dilampirkan. Seperti disebutkan sebelumnya, ada banyak metode untuk memasang fragmen karang. (8) Penempatan, fragmen baru disebarkan harus dipelihara dengan seksama untuk memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan terbaik untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Idealnya, mereka harus ditempatkan dalam pencahayaan sedikit kurang intens dari koloni ibu dan media saat ini dibandingkan dengan penempatan asli. Hal ini akan membantu memastikan tingkat pemulihan yang lebih baik. Mengawasi karang yang baru diperbanyak dan juga koloni ibu untuk produksi lendir berlebih. Ini dapat dengan mudah lembut ditiup pergi dengan powerhead kecil atau gelombang tangan. Melakukan hal ini akan mengurangi kemungkinan bahwa infeksi dapat menetapkan masuk (Anonim, 2010).

PENUTUP
Kesimpulan
Dengan adanya berbagai permasalah kerusakan terumbu karang yang terjadi di lovina seperti yang diuraikan di atas, di zaman yang serba modern ini, penulis menemukan solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan kerusakan terumbu karang yang terjadi di kawasan lovina, yaitu melalui metode transplantasi propagasi seperti berikut: 1. Pengambilan bibit koloni karang. Pengambilan bibit koloni karang sebaiknya dilakukan di daerah lain yang memiliki kedalaman yang sama dengan lokasi transplantasi. 2. Pengikatan bibit koloni karang ke substrat. Substrat pengikatan karang dapat berupa gerabah atau semen. 3. Penenggelaman transplantasi propagasi dan rangka (bila ada). 4. Perawatan. Perawatan dilakukan untuk memantau tingkat stres dan kelangsungan hidup karang transplantasi. Usaha pengembangan budidaya terumbu karang melalui teknik propagasi (yaitu teknik perbanyakan terumbu karang dengan stek) merupakan prospek yang sangat menarik karena kesederhanaanya serta laju pertumbuhan terumbu karang berlangsung relatif cepat.


















DAFTAR PUSTAKA
Allen, G. R. and Roger Steene.  1999.  Indo-Pasific Coral Reef Field Guide.  Tropical Reef Research.  California.
Barnes, R.  S.  K.  and Hughes.  1990.  An Introduction to Marine Ecology.  Blacwell Scientific Publisher.  London.
Clark, S.  2000.  Evaluation of Succession on Coral Recruitment in Maldives.  Departement of Marine Sciences and Coastal Management,  University of Newcastle. UK.
English, S.C. Wilkinson, and v. Baker, 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources, Australia Institute of Marine Science. Townsville.
Prasetia, I. N. D. 2007.  Study of Coral Recruitment in Nusa Lembongan Island, Nusa Penida, Klungkung, Bali (tesis).  Marine Biology and Fisheries Concentration. Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Udayana. Denpasar.
Prasetia, I. N. D. 2010. Struktur Komunitas Terumbu Karang di Pantai Lovina Buleleng, Bali.  Lingkungan Tropis.  Bandung
Sunarta, I.  N.,  I Ketut Sudiarta, I Wayan Restu, I Made Adikampana.  2003.  Neraca Sumber Daya Alam Spasial Daerah Propinsi Bali Tahun 2003.  Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Bali dengan Laboratorium Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Universitas Udayana.  Denpasar.

Kamis, 11 Oktober 2012

Mengimpor Ikan dari Laut Sendiri, karena Semua yang Impor Itu Kerenl

Tersenyum miris juga baca berita di portal kompas pagi ini yang berjudul “Stop Impor Ikan”KW 2″”. Disitu dikatakan sebanyak 200 kontainer berisi 5.300 ton ikan beku ditahan di pelabuhan Belawan Medan, pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Mas Semarang, serta di Bandar Udara Soekarno-Hatta Tangerang. Mayoritasnya berupa ikan kembung, layang, teri, tongkol kecil sampai ikan asin. Ikan beku itu ditahan karena tidak memilki izin impor.


   Sudah seharusnya setiap importir mengurusi izin masuk bagi semua barang yang akan mereka impor ke Indonesia. Namun bukan karena tidak adanya izin impor ini yang membuat kita semua prihatin, tapi barang apa yang coba diimpor ke Indonesia, ikan.
    Ada yang perlu kita pertanyakan dan perbaiki dalam kasus ini. Wilayah Indonesia yang didominasi lautan serta tidak ada yang membantah bahwa lautan Indonesia merupakan wilayah perairan yang kaya akan sumber daya termasuk ikan laut yang berlimpah. Namun, pada kenyataannya ternyata masih ada pihak yang berusaha untuk mengimpor ikan ke negeri ini.
Para importir tidak akan melakukan hal tersebut seandainya tidak ada permintaan akan hal tersebut, dalam hal ini animo masyarakat untuk membeli. Jawabannya mungkin kita dapatkan dari ilustrasi berikut: harga ikan kembung impor dari China berkisar Rp 5.000 per kilogram, sedangkan ikan kembung lokal Rp 20.000 per kilogram. Yah, mungkin inilah salah penyebab kenapa permintaan pasar dalam negeri terhadap ikan impor masih ada dan tergolong tinggi meskipun kita mempunyai laut dengan jutaan ton ikan di dalamnya.
    Inilah yang pantas disebut paradoks perikanan Indonesia. Untuk menikmati ikan dengan jenis yang sama dan dengan harga yang terjangkau, kita harus mendapatkannya dari tanah seberang. Sementara kita membiarkan perairan kita di”oprek” oleh kapal-kapal penangkap ikan dengan bendera negara lain. Bahkan tidak menutup kemungkinan kita malah mengimpor ikan dari perairan Indonesia sendiri. Seperti diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Fadel Muhammad yang mengakui bahwa ikan-ikan impor berasal dari laut Indonesia yang dicuri oleh kapal-kapal asing di perbatasan. Ujung-ujungnya nelayan kita yang kena dampaknya, ikan tak laku sementara anak-anak mereka butuh nasi, butuh pendidikan serta sandang, pangan dan papan lainnya.
    Kita, khususnya pemerintah dan tentunya dengan dukungan berbagai pihak yang berkompeten harus mampu memaksimalkan potensi perairan kita, menjadistackholder yang kuat bagi industri perikanan nasional dalam mengefesiensikan biaya produksi sehingga harga jualpun dapat terjangkau oleh para konsumen, khususnya konsumen dalam negeri. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengimpor ikan, apalagi harus mengimpor ikan sekelas ikan kembung dan ikan teri.
    Kalaupun hal ini kita biarkan berlarut-larut maka betapa malasnya kita, atau betapa lugunya kita. Kita harus membiarkan orang luar mengambil sumber daya kita agar kita dapat memilikinya dengan harga murah. Inilah kita negara agraris dengan berbagai kasus kelaparan dan busung laparnya. Inilah kita negara maritim yang perbatasannya dijaga kapal nelayan negara lain. Inilah kita negara agraris yang masih harus belajar menanam. Inilah kita negara maritim yang masih harus belajar berenang. Atau bangsa ini, Indonesia, tidak lagi pantas diidentikkan dengan sebutan negara agraris ataupun negara maritim. Dua sebutan bagi Indonesia yang pernah membuat saya ber”wah” ketika pertamakali menemukan istilah ini dipelajaran Geografi waktu SMP.

Next Acuan...

New Link and New Information http://catatankaoskaki.blogspot.com/p/download-referensi-tugas-kuliah.html


New Up Date

Huft Setelah sekian lama tidak beraktifitas akhir'a blog ini kembali bekerja juga..
Pekerjaan Selanjutnya adalah UPLOAD file-file untuk referensi dari tugas-tugas kuliah hehehe..
Semoga bisa membantu nanti...

Minggu, 25 Maret 2012

Move On

"And when you're down on your luck
hey baby, its a long, long way up
hold back now, hold back your fears
and when you're really down and out
and you feel like there's no way out now
let go now let go of your tears some more" 
by : Social Distortion-Angel's Wings


Lirik yang simpel tapi bisa bikin gue Move On.. Seperti Awal buat Nulis di blog ini, gak ada yang bisa gue harapi selain mulai nulis kegilaan demi kegilaan gue disini, pkk'a apapun itu !!! INI GUE...